BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Di
masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah
antropometri gizi. Dewasa ini dalam program gizi masyarakat, pemantauan status
gizi anak balita menggunakan metode antropometri, sebagai cara untuk menilai
status gizi. Disamping itu pula dalam kegiatan penapisan status gizi masyarakat
selalu menggunakan metode tersebut.
Antropometri
merupakan salah satu metode yang dapat dipakai secara universal, tidak mahal,
dan metode yang non invasif untuk mengukur ukuran, bagian, dan komposisi dari
tubuh manusia. Oleh karena itu, disebabkan pertumbuhan anak-anak dan dimensi
tubuh pada segala usia dapat mencerminkan kesehatan dan kesejahteraan dari
individu dan populasi, antropometri dapat juga digunakan untuk memprediksi
performa, kesehatan, dan daya tahan hidup. Antropometri penting untuk kesehatan
masyarakat dan juga secara klinis yang dapat mempengaruhi kesehatan dan
kesejahteraan sosial dari individu dan populasi. Selain itu, aplikasi
antropometri mencakup berbagai bidang karena dapat dipakai untuk menilai status
pertumbuhan, status gizi dan obesitas, identifikasi individu, olahraga, militer,
teknik dan lanjut usia.
Antropometri
berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya tubuh dan metros artinya
ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran dari tubuh. Antropometri gizi adalah
pengukuran yang berhubungan dengan berbagai macam dimensi tubuh dan komposisi
tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Umumnya,
antropometri digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai
ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Antropometri dapat dibagi
menjadi dua, yaitu Antropometri Statis/structural (Pengukuran manusia pada
posisi diam, dan linier pada permukaan tubuh) dan Antropometri Dinamis/fungsional
(pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau
memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut
melaksanakan kegiatannya).
Pada
dasarnya jenis pertumbuhan dapat dibagi dua yaitu; pertumbuhan yang bersifat
linier dan pertumbuhan massa jaringan. Dari sudut pandang antropometri, kedua
jenis pertumbuhan ini mempunyai arti yang berbeda. Pertumbuhan linier
menggambarkan status gizi yang dihubungkan pada saat lampau dan pertumbuhan
massa jaringan menggambarkan status gizi yang dihubungkan pada saat sekarang
atau saat pengukuran.
a. Linier
Bentuk dari
ukuran linier adalah ukuran yang berhubungan dengan panjang. Contoh ukuran
linier adalah panjang badan, lingkar dada, lingkar kepala. Ukuran linier yang rendah
biasanya menunjukkan keadaan gizi yang kurang akibat kekurangan energi dan
protein yang dideritawaktu lampau. Ukuran linier yang paling sering digunakan
adalah tinggi atau panjang badan.
b. Massa Jaringan
Bentuk dan
ukuran massa jaringan adalah massa tubuh. Contoh ukuran massa jaringan adalah
berat badan, lingkar lengan atas (LLA), dan tebal lemak bawah kulit.
Apabila
ukuran ini rendah atau kecil, menunjukkan keadaan gizi kurang akibat kekurangan
energi dan protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan.
Ukuran massa
jaringan yang paling sering digunakan adalah berat badan.
B. Rumusan Masalah
C.
Tujuan
a. Tujuan umum
1. Dapat
melakukan pengukuran antropometri dengan tepat pada anak.
2. Dapat
menilai status gizi anak berdasarkan standar yang digunakan.
b. Tujuan
khusus
1. Dapat
melakukan pengukuran berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) pada anak.
2. Dapat
menilai status gizi pada anak.
D.
Manfaat
a. Agar
mahasiswa dapat melakukan pengukuran berat badan (BB) dan tinggi badan (TB)
pada anak.
b. Agar mahasiswa dapat menentukan status gizi anak.
c. Agar mahasiswa bisa menentukan status pertumbuhan
anak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Antropometri
Antropometri
berasal dari kata antropos dan metros. Antropos artinya tubuh dan metros
artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran dari tubuh. Pengertian ini
bersifat sangat umum sekali. Pengertian dari sudut pandang gizi, telah banyak
diungkapkan oleh para ahli Jelliffe (1966) mengungkapkan bahwa ; “Nutritional
antropometry is measurement of the variations of the physical dimensions and
the gross composition of the human body at different age levels and degree of
nutrition”. Dari definisi ini dapat ditarik kesimpulan pengertian bahwa
antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi
tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai
jenis ukuran tubuh antara lain : berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas
dan tebal lemak di bawah kulit. Antropometri
sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidak
seimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi
jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh. (Nyoman, 2002)
Dewasa ini,
di masyarakat sangat lazim digunakan metode antropometri untuk menentukan
status gizi, baik pada dewasa maupun anak – anak. Selain untuk tujuan tesebut,
antropometri digunakan untuk kegiatan penapisan status gizi masyarakat. Sedangkan dari sudut pandang gizi, antropometri berarti pengukuran dari
ukuran dan komposisi tubuh pada berbagai level usia dan variasi keadaan gizi.
Jadi dapat
disimpulkan, bahwa fokus utama pengukuran antropometri meliputi pengukuran
dimensi tubuh seperti berat badan, tinggi badan atau panjang badan, lingkar
lengan atas dan komposisi tubuh meliputi lemak tubuh (fat mass) dan bukan lemak
tubuh (fat-free mass) dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Antropometri
gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis
ukuran tubuh antara lain: berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan
tebal lemak di bawah kulit.
Keunggulan antropometri gizi sebagai berikut :
Keunggulan antropometri gizi sebagai berikut :
a.
Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam
jumlah sampel yang besar.
b.
Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup
dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat dapat melakukan
pengukuran antropometri. Kader gizi (Posyandu) tidak perlu seorang ahli, tetapi
dengan pelatihan singkat ia dapat melaksanakan kegiatannya secara rutin.
c.
Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan
dan dibuat di daerah setempat. Memang ada alat antropometri yang mahal dan
harus diimpor dari luar negeri, tetapi penggunaan alat itu hanya tertentu saja
seperti "Skin Fold Caliper" untuk mengukur tebal lemak di bawah
kulit.
d.
Metode ini tepat dan akurat, karena dapat dibakukan.
e.
Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di
masa lampau.
f.
Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang,
kurang, dan gizi buruk, karena sudah ada ambang batas yang jelas.
g.
Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan
status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
h.
Metode antropometri gizi dapat digunakan untuk
penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi.
Di samping
keunggulan metode penentuan status gizi secara antropometri, terdapat pula
beberapa kelemahan :
a.
Tidak sensitifnya metode ini
tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat. Di samping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti
zink dan Fe.
b.
Faktor di luar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan
penggunaan energi) dapat
menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri.
c.
Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat
mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi.
d.
Kesalahan ini terjadi karena:
1.
pengukuran.
2.
perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi
jaringan.
3.
analisis dan asumsi yang keliru.
e.
Sumber kesalahan, biasanya berhubungan dengan:
1.
latihan petugas yang tidak cukup.
2.
kesalahan alat atau alat tidak ditera.
3.
kesulitan pengukuran. (Nyoman, 2002)
Jenis Parameter
Antropometri
sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa
parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain:
Umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar
dada, lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit.
a.
Umur
Faktor umur
sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan
menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi
badan dan berat badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan
penentuan umur yang tepat.
Menurut
Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur digunakan adalah tahun umur penuh
(Completed Year) dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh
(Completed Month).
Contoh: Tahun usia penuh (Completed
Year)
Umur : 7 tahun 2 bulan, dihitung 7 tahun 6 tahun 11 bulan, dihitung 6 tahun
Contoh: Bulan Usia penuh (Completed
Month)
Umur : 4
bulan 5 hari, dihitung 4 bulan 3 bulan 27
hari, dihitung 3 bulan
b. Berat Badan
Berat badan
merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada
bayi baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk mendiagnosa bayi normal
atau BBLR. Dikatakan BBLR apabila berat bayi lahir di bawah 2500 gram atau di
bawah 2,5 kg. Pada masa bayi-balita, berat badan dapat dipergunakan untuk
melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan
klinis seperti dehidrasi, asites, edema dan adanya tumor. Di samping itu pula
berat badan dapat dipergunakan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan
makanan. Berat badan
menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Pada
remaja, lemak tubuh cenderung meningkat, dan protein otot menurun. Pada orang
yang edema dan asites terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Adanya tumor dapat
menurunkan jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan
gizi.
Penentuan
berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang digunakan di lapangan
sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan:
1.
Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat
yang lain.
2.
Mudah diperoleh dan relatif murah harganya.
3.
Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg.
4.
Skalanya mudah dibaca.
5.
Cukup aman untuk menimbang anak balita.
Alat yang dapat memenuhi persyaratan
dan kemudian dipilih dan dianjurkan untuk digunakan dalam penimbangan anak
balita adalah dacin.
Penggunaan dacin mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
Penggunaan dacin mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
1.
Dacin sudah dikenal umutn sampai di pelosok pedesaan.
2.
Dibuat di Indonesia, bukan impor, dan mudah didapat.
3.
Ketelitian dan ketepatan cukup baik.
Dacin yang
digunakan sebaiknya minimum 20 kg dan maksimum 25 kg. Bila digunakan dacin
berkapasitas 50 kg dapat juga, tetapi hasilnya agak kasar, karena angka
ketelitiannya 0,25 kg.
c. Tinggi Badan
Tinggi atau
panjang badan merupakan indikator umum ukuran tubuh dan panjang tulang. Namun,
tinggi saja belum dapat dijadikan indikator untuk menilai status gizi, kecuali
jika digabungkan dengan indikator lain seperti usia dan berat badan. Penggunaan
tinggi, atau panjang, bukan tanpa kelemahan. Pertama, baku acuan yang tersedia
umumnya terambil dari penilaian tinggi badan subjek yang berasal dari
masyarakat berstatus gizi baik di negara maju. Kedua, defisit pertumbuhan
linier baru akan terjelma manakala defisiensi telah berlangsung lama yang
berarti tidak akan termanifestasi semasa bayi. Jika bayi terukur lebih pendek
ketimbang baku acuan, tidak berarti bayi tersebut tengah malnutrisi pascanatal,
melainkan dampak dari ukuran lahir rendah. Ketiga, secara genetik setiap orang
terlahir menurut ukuran yang tidak serupa: orang yang jika dibandingkan dengan
populasi "acuan" berukuran lebih pendek tidak langsung berarti
malnutrisi.
Tinggi badan diukur dalam keadaan berdiri tegak lurus, tanpa alas kaki, kedua tangan merapat ke badan, punggung dan bokong menempel pada dinding, dan pandangan diarahkan ke depan.
Tinggi badan diukur dalam keadaan berdiri tegak lurus, tanpa alas kaki, kedua tangan merapat ke badan, punggung dan bokong menempel pada dinding, dan pandangan diarahkan ke depan.
d. Lingkar
Lengan Atas (LLA)
Lingkar lengan atas (LLA) dewasa ini
memang merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah
dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat yang sulit diperoleh dengan harga yang
lebih murah.
Pengukuran LLA adalah suatu cara
untuk mengetahui risiko kekurangan energi protein (KEP) wanita usia subur
(WUS). Pengukuran LLA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan status
gizi dalam jangka pendek. Pengukuran LLA digunakan karena pengukurannya sangat
mudah dan dapat dilakukan siapa saja.
Beberapa tujuan pemeriksaan LLA
adalah mencakup masalah WUS baik ibu hamil maupun calon ibu, masyarakat umum
dan peran petugas lintas sektoral. Adapun tujuan tersebut adalah:
1.
Mengetahui risiko KEK WUS, baik ibu hamil maupun calon
ibu, untuk menapis wanita yang mempunyai risiko melahirkan bayi berat lahir
rendah (BBLR).
2.
Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar
lebih berperan dalam pencegahan dan penanggulangan KEK.
3.
Mengembangkan gagasan baru di kalangan masyarakat
dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.
d. Meningkatkan peran petugas lintas sektoral dalam upaya perbaikan gizi WUS yang menderita KEK.
d. Meningkatkan peran petugas lintas sektoral dalam upaya perbaikan gizi WUS yang menderita KEK.
4.
Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran
WUS yang menderita KEK.
Lingkar lengan
atas diperiksa pada bagian pertengahan jarak antara olekranon dan tonjolan
akromion. Ambang batas LLA WUS dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm.
Apabila ukuran LLA kurang 23,5 cm atau dibagian merah pita LLA, artinya wanita
tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi
lahir rendah (BBLR). BBLR mempunyai risiko kematian, gizi kurang, gangguan
pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak.
e. Lingkar
Kepala
Lingkar kepala adalah standar
prosedur dalam ilmu kedokteran anak secara praktis, yang biasanya untuk
memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala atau peningkatan ukuran kepala.
Contoh yang sering digunakan adalah kepala besar (Hidrosefalus) dan kepala
kecil (Mikrosefalus).
Lingkar
kepala terutama dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran
otak meningkat secara cepat selama tahun pertama, akan tetapi besar lingkar
kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Bagaimanapun juga ukuran
otak dan lapisan tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan
keadaan gizi.
f. Lingkar Dada
Biasanya
dilakukan pada anak yang berumur 2 sampai 3 tahun, karena rasio lingkar kepala
dan lingkar dada sama pada umur 6 bulan. Setelah umur ini, tulang tengkorak
tumbuh secara lambat dan pertumbuhan dada lebih cepat. Umur antara 6 bulan dan
5 tahun, rasio lingkar kepala dan dada adalah kurang dari satu, hal ini
dikarenakan akibat kegagalan perkembangan dan pertumbuhan, atau kelemahan otot
dan lemak pada dinding dada. Ini dapat digunakan sebagai indikator dalam menentukan
KEP pada anak balita.
g. Jaringan
Lunak
Otak, hati, jantung, dan organ dalam
lainnya merupakan bagian yang cukup besar dari berat badan, tetapi relatif
tidak berubah beratnya pada anak malnutrisi. Otot dan lemak merupakan jaringan
lunak yang sangat bervariasi pada penderita KEP. Antropometri jaringan dapat
dilakukan pada kedua jaringan tersebut dalam pengukuran status gizi di
masyarakat.
1.
Lemak subkutan (Sub-Cutaneous Fat)
Penelitian komposisi tubuh, termasuk
informasi mengenai jumlah dan distribusi lemak subkutan, dapat dilakukan dengan
bermacam metode:
a)
Analisis Kimia dan Fisik (melalui analisis seluruh
tubuh pada autopsi).
b)
Ultrasonik.
c)
Densitometri (melalui penempatan air pada
densitometer)
d)
Radiological anthropometry (dengan mengunakan jaringan
yang lunak).
e)
Physical anthropometry (menggunakan skin-fold
calipers).
Dari metode
tersebut diatas, hanya antropometri fisik yang paling sering atau praktis
digunakan di lapangan. Bermacam-macam skin-fold calipers telah ditemukan,
tetapi pengalaman menunjukkan bahwa alat tersebut mempunyai standard atau
jangkauan jepitan (20-40 mm2), dengan ketelitian 0,1 mm, tekanan yang konstan
10 gram/mm2). Jenis alat yang sering digunakan adalah Harpenden Calipers. Alat
itu memungkinkan jarum diputar ke titik nol apabila terlihat penyimpangan.
Indeks
Antropometri
Parameter
antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara
beberapa parameter disebut indeks antropometri.
a. Berat badan
menurut umur (BB/U)
Indeks BB/U
merefleksikan berat badan relatif dibandingkan dengan umur anak. Indeks ini
menggambarkan status gizi masa kini, baik digunakan apabila data umur tidak
diketahui. Karena indeks ini menggambarkan proporsi berat badan relatif
terhadap tinggi badan maka indeks ini merupakan indikator kekurusan (wasting).
Dengan sifat labil, indeks BB/U menggambarkan status gizi pada masa kini.
Indeks ini dapat mendeteksi apakah seorang anak beratnya kurang atau sangat
kurang, tetapi tidak dapat digunakan untuk mengklasifikasikan apakah seorang
anak mengalami kelebihan berat badan atau sangat gemuk.
Penting untuk diketahui bahwa seorang anak dengan BB/U rendah dapat disebabkan oleh pendek (stunting) atau kurus(thinness) atau keduanya.
Penting untuk diketahui bahwa seorang anak dengan BB/U rendah dapat disebabkan oleh pendek (stunting) atau kurus(thinness) atau keduanya.
Kelebihan indeks BB/U antara lain :
1.
Mudah dan cepat dimengerti masyarakat umum.
2.
Sensitif melihat perubahan status gizi jangka pendek.
3.
Dapat mendeteksi kelebihan berat badan (overweight).
4.
Pengukuran objektif, pengulangan memberikan hasil
relatif sama.
5.
Alat mudah dibawa dan relatif murah.
6.
Pengukuran mudah dilakukan dan teliti.
7.
Pengukuran tidak makan waktu banyak.
Kekurangan indeks BB/U :
1.
Kekeliruan interpretasi bila ada oedema.
2.
Perlu data umur yang akurat.
3.
Sering kesalahan pengukuran akibat pengaruh pakaian
dan gerakan anak.
4.
Secara operasional sering terjadi hambatan karena
masalah sosial budaya setempat.
b. Berat badan
menurut panjang atau tinggi badan (BB/PB atau BB/TB)
Berat badan
mempunyai hubungan linear dengan tinggi badan. Pada keadaan normal, maka
perkembangan berat badan searah dengan pertambahan tinggi badan dengan
kecepatan tertentu. Indeks ini menggambarkan status gizi masa kini, baik
digunakan apabila data umur tidak diketahui. Karena indeks ini menggambarkan
proporsi berat badan relatif terhadap tinggi badan, maka indeks ini merupakan
indikator kekurusan (wasting).
Kelebihan indeks BB/TB antara lain :
1.
Hampir bebas terhadap pengaruh umur dan ras.
2.
Dapat membedakan anak : kurus, gemuk, marasmus atau
bentuk KEP lainnya.
Kelemahan
indeks BB/TB :
1.
Tidak dapat memberi gambaran apakah anak tersebut
pendek, cukup tinggi badan atau kelebihan TB, karena faktor umur tidak
diperhatikan.
2.
Dalam praktek sering dialami kesulitan ketika mengukur
panjang badan anak baduta atau TB anak balita.
3.
Sering terjadi kesalahan membaca angka hasil
pengukuran, terutama bila dilakukan oleh tenaga non-profesional.
c. Panjang atau
tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U)
Tinggi badan
menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal maka tinggi
badan akan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan
tidak seperti berat badan, dimana tinggibadan relatif kurang sensitif terhadap
defisiensi gizi dalam jangka pendek. Indeks ini menggambarkan keadaan stunting.
Kelebihan indeks TB/U :
1.
Indikator yang baik untuk mengetahui kurang gizi masa
lampau.
2.
Alat mudah dibawa ke lapangan dan dapat dibuat secara
lokal.
3.
Jarang orangtua keberatan diukur anaknya.
4.
Pengukuran objektif.
Kelemahan indeks TB/U :
1.
Dalam menilai intervensi harus disertai indeks lain
(spt BB/U), karena perubahan TB tidak banyak terjadi dalam waktu singkat.
2.
Membutuhkan beberapa teknik pengukuran seperti : alat
ukur PB untuk anak < 2 tahun, dan alat ukur TB untuk anak >2 tahun.
3.
Hasil ukur yang teliti sulit diperoleh oleh tenaga
kurang terlatih, seperti kader atau petugas yang belum berpengalaman.
4.
Memerlukan tenaga 2 orang untuk mengukur panjang
badan.
5.
Umur tepat kadang sulit didapatkan.
d.
Lingkar Lengan Atas Menurut Umur (LLA/U)
Kelebihan Indeks LLA/U :
1.
Indikator yang baik untuk menilai KEP berat.
2.
Alat ukur murah, sangat ringan, dan dapat dibuat sendiri.
3.
Alat dapat diberi kode warna untuk menentukan tingkat
keadaan gizi, sehingga dapat digunakan oleh yang tidak dapat membaca dan menulis.
Kekurangan Indeks LLA/U :
1.
Hanya dapat mengidentifikasi anak dengan KEP berat.
2.
Sulit menentukan ambang batas.
3.
Sulit digunakan untuk melihat pertumbuhan anak
terutama anak usia 2 sampai 5 tahun yan perubahannya tidak nampak nyata.
e. Indeks Massa
Tubuh
Masalah
kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun) merupakan
masalah penting, karena selain mempunyai resiko penyakit tertentu, juga dapat
mempengaruhi produktivitas kerja. Oleh karena itu pemantauan keadaan tersebut
perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu cara adalah dengan
mempertahankan berat badan ideal/normal. Kategori
batas ambang IMT untuk Indonesia menurut
WH)/WPR/IASO/ITF (2000) :
Kategori IMT
1.
Kurus Sangat kurus < 16,49
2.
Kurus 16,5 – 18,49
3.
Normal 18,5 – 22,9
4.
Overweight 23,0 – 24,0
5.
Obesitas
i.
Obesitas tingkat ringan (batas I) 23,0 – 29,9
ii.
Obesitas tingkat sedang (batas II) > 30
iii.
Obesitas tingkat berat (batas (III) > 40
f. Tebal Lemak
Bawah Kulit Menurut Umur (TLBK/U)
Pengukuran
lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold) dilakukan
pada beberapa bagian misalnya pada bagian lengan atas (triceps dan biceps), lengan
bawah (foream), tulang belikat (subscapular), ditengah garis ketiak
(midaxilarry).
Lemak tubuh dapat diukur secara absolute dinyatakan dalam kilogram maupun secara relative dinyatakan dalam persen terhadap berat tubuh total.
Lemak tubuh dapat diukur secara absolute dinyatakan dalam kilogram maupun secara relative dinyatakan dalam persen terhadap berat tubuh total.
Jumlah lemak
tubuh sangat bervariasi tergantung dari jenis kelamin dan umur. Umumnya lemak bawah kulit pria = 3,1 kg dan wanita = 5,1 kg.
Intrepretasi
Hasil Pengukuran
Status gizi
adalah gambaran kondisi fisik seseorang sebagai refleksi dari keseimbangan
energi yang masuk dan yang dikeluarkan oleh tubuh. Status gizi seseorang dapat
dinilai dengan mengukur dimensi tubuh (antropometri), yaitu berat badan, tinggi
badan, lingkar lengan atas, serta tebal lemak di bawah kulit. Akan tetapi
ukuran tubuh saja tidak akan memberikan arti jika tidak dikaitkan dengan umur
dan jenis kelamin. Kombinasi antar ukuran tubuh, atau antara ukuran tubuh
dengan umur disebut ”indices” atau indikator . Secara umum indikator
dikelompokkan menjadi dua, yaitu indikator pertumbuhan (growth indicators) dan
indikator komposisi tubuh (body composition). Indikator pertumbuhan termasuk
berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan
menurut tinggi badan (BB/TB), dan lingkar kepala. Indikator komposisi tubuh
antara lain ukuran lengkar lengan atas, dan tebal lemak bawah kulit.
Untuk
menilai status gizi anak balita, WHO merekomendasikan penggunaan baku rujukan
dari National Center for Health and Statistic (NCHS). Ambang batas (cut off
point) yang digunakan skor simpang baku atau z skor untuk menentukan status
gizi baik adalah ± 2 SD (WHO, 1983). Dengan ambang batas tersebut dapat
ditetapkan underweight (BB/U <-2 SD), stunted (TB/U<-2 SD), dan wasted
(BB/TB < -2 SD). Status gizi orang dewasa dapat dinilai menggunakan indeks
masa tubuh (body mass index) lebih sering disingkat BMI, yaitu suatu rasio
antara berat badan (kg) dengan kwadrat tinggi badan (dalam meter). (Pelangi
Gizi, 2008)
B.
Status Gizi
a. Pengertian Status Gizi
Status gizi adalah ukuran
keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh
berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai
status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan
nutrien.
Penelitian
status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta
biokimia dan riwayat diit (Beck, 2000:1).
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi
1. Faktor External
Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara
lain:
a) Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah
taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki
keluarga tersebut (Santoso, 1999).
b) Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah
pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan
dengan status gizi yang baik (Suliha, 2001).
c) Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama
untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan
yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap
kehidupan keluarga (Markum, 1991).
d) Budaya
Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi
tingkah laku dan kebiasaan (Soetjiningsih, 1998).
2. Faktor Internal
Faktor Internal yang mempengaruhi status gizi
antara lain :
a) Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang
dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
b) Kondisi
Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan
yang lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan
mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat
rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk
pertumbuhan cepat (Suhardjo, et, all, 1986).
c) Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu
makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et,
all, 1986).
c. Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi secara langsung menurut Supariasa (2001) dapat dilakukan dengan:
1. Antropometri
Antropometri adalah
ukuran tubuh manusia. Sedangkan antropometri
gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dan tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat keseimbangan
asupan protein dan energi.
2. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode untuk menilai status
gizi berdasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan
ketidakcukupan zat gizi, seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau organ
yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
3. Biokimia
Penilaian status gizi dengan
biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang
dilakukan pada berbagai macam jaringan. Jaringan tubuh yang digunakan antara
lain darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan
otot.
4. Biofisik
Penilaian status gizi secara biofisik adalah metode penentuan
status gizi dengan melibat kemampuan fungsi
dan melihat perubahan struktur dari jaringan.
Penilaian status gizi secara tidak Iangsung menurut
Supariasa, IDN (2001) dapat dilakukan dengan:
1. Survey
Konsumsi Makanan
Survey konsumsi
makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan
melihat jumlah dan jenis zat dan gizi yang dikonsumsi.
Kesalahan dalam survey makanan bisa disebabkan oleh
perkiraan yang tidak tepat dalam menentukan jumlah makanan yang dikonsumsi
balita, kecenderungan untuk mengurangi makanan yang banyak dikonsumsi dan
menambah makanan yang sedikit dikonsumsi ( The Flat Slope Syndrome), membesar-besarkan konsumsi makanan
yang bernilai sosial tinggi, keinginan melaporkan konsumsi vitamin dan mineral
tambahan kesalahan dalam mencatat (food
record).
2. Statistik
Vital
Yaitu dengan menganalisis data
beberapa statistik kesebatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka
kesakitan dan kematian karena penyebab tertentu dan data lainnya yang
berhubungan dengan gizi.
3. Faktor
Ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi
sebagai hasil interaksi antara beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan
budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dan keadaan ekologi
seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain-lain.
d. Macam Klasifikasi Status Gizi
1. Klasifikasi
Status Gizi
Tabel 2.1. Tabel Status Gizi
INDEKS
|
STATUS GIZI
|
AMBANG BATAS *)
|
Berat badan menurut umur (BB/U)
|
Gizi Lebih
|
> + 2 SD
|
Gizi Baik
|
≥ -2 SD sampai +2 SD
|
|
Gizi Kurang
|
< -2 SD sampai ≥ -3 SD
|
|
Gizi Buruk
|
< – 3 SD
|
|
Tinggi badan menurut umur (TB/U)
|
Normal
|
≥ 2 SD
|
Pendek (stunted)
|
< -2 SD
|
|
Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)
|
Gemuk
|
> + 2 SD
|
Normal
|
≥ -2 SD sampai + 2 SD
|
|
Kurus (wasted)
|
< -2 SD sampai ≥ -3 SD
|
|
Kurus sekali
|
< – 3 SD
|
Sumber : Depkes RI, 2002.
Klasifikasi
di atas berdasarkan parameter antropometri yang dibedakan atas:
a) Berat Badan
/ Umur
Status gizi ini diukur sesuai dengan
berat badan terhadap umur dalam bulan yang hasilnya kemudian dikategorikan
sesuai dengan tabel 2.1.
b) Tinggi Badan
/ Umur
Status gizi ini diukur sesuai dengan
tinggi badan terhadap umur dalam bulan yang hasilnya kemudian dikategorikan
sesuai dengan tabel 2.1.
c) Berat Badan
/ Tinggi Badan
Status gizi ini diukur sesuai dengan
berat badan terhadap tinggi badan yang hasilnya kemudian dikategorikan sesuai
dengan tabel 2.1.
d) Lingkar
Lengan Atas / Umur
Lingkar lengan atas (LILA) hanya
dikategorikan menjadi 2 kategori yaitu gizi kurang dan gizi baik dengan batasan
indeks sebesar 1,5 cm/tahun.
e) Parameter
Berat Badan / Tinggi Badan banyak digunakan karena memiliki kelebihan:
1) Tidak
memerlukan data umur
2) Dapat
membedakan proporsi badan ( gemuk, normal, kurus)
Menurut Depkes RI (2005) Parameter berat badan /
tinggi badan berdasarkan kategori Z-Score diklasifikasikan menjadi 4
yaitu:
1) Gizi
Buruk ( Sangat Kurus) : <-3 SD
2) Gizi Kurang
(Kurus)
:-3SDs/d<-2SD
3) Gizi Baik
(Normal)
:-2SDs/d+2SD
4) Gizi Lebih
(Gemuk)
:>+2SD
e.
Mengukur status gizi dengan
indeks massa tubuh (IMT)
Status gizi merupakan keadaan
kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi,
penyerapan (absorbsi), dan penggunaan (utilization) zat gizi makanan. Status gizi seseorang tersebut dapat diukur dan diasses (dinilai). Dengan menilai status gizi seseorang atau sekelompok orang, maka dapat
diketahui apakah seseorang atau sekelompok orang tersebut status gizinya
tergolong normal ataukah tidak normal.
Antropometri
adalah pengukuran bagian-bagian tubuh. Perubahan dalam dimensi-dimensi tubuh
merefleksikan keadaan kesehatan dan kesejahteraan seseorang atau penduduk
tertentu.
Antropometri
digunakan untuk menilai dan memprediksi status gizi, performan, kesehatan dan
kelangsungan hidup seseorang dan merefleksikan keadaan sosial ekonomi atau
kesejahreraan penduduk. Antropometri
merupakan pengukuran status gizi yang sangat luas digunakan. Alasan penggunaan antropometri yang luas tersebut
adalah :
1. Kehandalannya
dalam menilai dan memprediksi status gizi dan masalah kesehatan dan sosial
ekonomi.
2. Mudah
digunakan dan relatif tidak mahal.
3. Alat ukur
yang non-invasive (tidak membuat trauma bagi orang yang diukur).
Ukuran yang biasa digunakan adalah tinggi badan (atau
panjang badan), berat badan, lengkar lengan atas, dan umur. Tinggi dan berat badan paling sering
digunakan dalam pengukuran karena dapat membantu mengevaluasi pertumbuhan
anak-anak dan menentukan status gizi orang dewasa. Indeks massa tubuh (IMT) merupakan indikator
yang paling sering digunakan untuk mendeteksi masalah gizi pada seseorang.
Antropometri
dapat digunakan untuk berbagai tujuan, tergantung pada indikator antropometri
yang dipilih. Sebagai contoh, indeks
massa tubuh (IMT) merupakan indikator kekurusan dan kegemukan. Pengukuran IMT merupakan cara yang paling
murah dan mudah dalam mendeteksi masalah kegemukan di suatu wilayah. Masalah kegemukan sekarang ini semakin
meningkat dengan semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan peningkatan
kemajuan teknologi yang memungkinkan aktivitas masyarakat semakin rendah. Peningkatan masalah kegemukan ini saat erat
kaitannya dengan berbagai penyakit kronis degeneratif, seperti hipertensi,
diabetes, penyakit jantung koroner, kanker, dll.
Pengukuran
IMT dapat dilakukan pada anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Pada anak-anak dan remaja pengukuran IMT
sangat terkait dengan umurnya, karena dengan perubahan umur terjadi perubahan
komposisi tubuh dan densitas tubuh.
Karena itu, pada anak-anak dan remaja digunakan indikator IMT menurut
umur, biasa disimbolkan dengan IMT/U.
IMT
adalah perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat. Cara pengukurannya adalah pertama-tama ukur
berat badan dan tinggi badannya. Selanjutnya
dihitung IMT-nya, yaitu :
Berat badan (kg)
IMT
= ----------------------------------------------
Tinggi badan 2
(meter)
Dimana : berat badan dalam satuan
kg, sedangkan tinggi badan dalam satuan meter.
Untuk menentukan status gizi anak
balita (usia 0-60 bulan), nilai IMT-nya harus dibandingkan dengan nilai IMT
standar WHO 2005 (WHO, 2006); sedangkan pada anak dan remaja usia 5-19 tahun
nilai IMT-nya harus dibandingkan dengan referensi WHO/NCHS 2007 (WHO,
2007). Pada saat ini, yang paling sering
dilakukan untuk menyatakan indeks tersebut adalah dengan Z-skor atau persentil.
1. Z-skor : deviasi nilai seseorang dari nilai median populasi
referensi dibagi dengan simpangan baku populasi referensi.
2. Persentil : tingkatan posisi seseorang pada distribusi
referensi (WHO/NCHS), yang dijelaskan dengan nilai seseorang sama atau lebih
besar daripada nilai persentase kelompok populasi.
Z-skor
paling sering digunakan. Secara
teoritis, Z-skor dapat dihitung dengan cara berikut :
Nilai IMT yang diukur – Median
Nilai IMT (referensi)
Z-Skor = -------------------------------------------------------------
Standar Deviasi dari
standar/referensi
Klasifikasi WHO agak sedikit berbeda
dengan klasifikasi menurut Kementerian Kesehatan RI. Klasifikasi status gizi pada IMT yang
dihitung dengan menggunakan Z-skor menurut WHO dapat dilihat pada Tabel 1
berikut :
Tabel
1. Klasifikasi IMT menurut WHO
Nilai Z-skor
|
Klasifikasi
|
z-skor ≥ +2
|
Overweight (kelebihan berat badan atau gemuk)
|
-2 < z-skor < +2
|
Normal
|
-3 < z-skor < -2
|
Kurus
|
z-skor < -3
|
Sangat kurus
|
Klasifikasi menurut Kemenkes RI
(2010) dibedakan pada kelompok usia 0-60 bulan dengan kelompok usia 5-18
bulan. Klasifikasi IMT untuk usia 0-60
bulan disajikan pada Tabel 2, sedangkan klasifikasi IMT untuk anak usia 5-18
tahun disajikan pada Tabel 3.
Tabel
2. Klasifikasi IMT menurut Kemenkes RI
2010 untuk anak usia 0-60 bulan
Nilai Z-skor
|
Klasifikasi
|
z-skor ≥ +2
|
Gemuk
|
-2 < z-skor < +2
|
Normal
|
-3 < z-skor < -2
|
Kurus
|
z-skor < -3
|
Sangat kurus
|
Tabel 3. Klasifikasi IMT menurut Kemenkes RI 2010
untuk anak usia 5-18 tahun
Nilai Z-skor
|
Klasifikasi
|
z-skor ≥ +2
|
Obesitas
|
+1 < z-skor < +2
|
Gemuk
|
-2 < z-skor < +1
|
Normal
|
-3 < z-skor < -2
|
Kurus
|
z-skor < -3
|
Sangat kurus
|
Sekarang
untuk menghitung z-skor IMT/U tersebut bukan hal yang susah lagi. Kemajuan teknologi mempermudah hal itu. Software-nya sudah tersedia di web WHO. Pada
orang dewasa, pengukuran status gizi dilakukan dengan menggunakan indeks massa
tubuh (IMT). Perhitungan IMT sama
seperti diatas. Hasilnya dibandingkan
dengan nilai titik batas IMT menurut WHO atau Departemen Kesehatan RI, yang
nilai titik batasnya disajikan pada Tabel 4 dan Tabel 5.
Pada orang dewasa faktor umur tidak
dipertimbangkan dalam menghitung IMT.
Pada orang dewasa biasanya tinggi badannya tidak relatif stabil,
sehingga variasi yang terjadi hanya pada berat badannya.
Tabel
4. Klasifikasi IMT Dewasa menurut WHO
Klasifikasi
|
Interpretasi
|
< 16,0
|
Severe thinness
|
16,00 – 16,99
|
Moderate thinness
|
17,00 – 18,49
|
Mild thinness
|
18,50 – 24,99
|
Normal
|
25,00 – 29,99
|
Grade 1 overweight
|
30,00 – 39,99
|
Grade 2 overweight
|
≥ 40,0
|
Grade 3 overweight
|
Tabel 5. Klasifikasi IMT Dewasa menurut Kemenkes RI
(2003)
Kategori IMT
|
Klasifikasi
|
< 17,0
|
Kurus (kekurangan berat badan tingkat berat)
|
17,0 – 18,4
|
Kurus (kekurangan berat badan tingkat ringan)
|
18,5 – 25,0
|
Normal
|
25,1 – 27,0
|
Kegemukan (kelebihan berat badan tingkat ringan)
|
> 27,0
|
Gemuk (kelebihan berat badan tingkat berat)
|
1. Kelemahan
penggunaan IMT
Penggunaan
IMT mempunyai kelemahan. Kelemahan yang
terjadi adalah dalam menentukan obesitas.
Kita tahu bahwa obesitas adalah kelebihan lemak tubuh. IMT hanya
mengukur berat badan dan tinggi badan.
Kelebihan berat badan tidak selalu identik dengan kelebihan lemak. Berat badan terdiri dari lemak, air, otot
(protein), dan mineral. Pada seorang
yang sangat aktif, misalkan olahragawan, maka biasanya komposisi lemak tubuhnya
relatif rendah dan komposisi ototnya relatif tinggi. Pada orang yang sangat aktif IMT yang tinggi
tidak berarti kelebihan lemak tubuh atau bukan obes.
c.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi status gizi
Menurut Unicef (1998) gizi kurang
pada anak balita disebabkan oleh beberapa faktor yang kemudian diklasifikasikan
sebagai penyebab langsung, penyebab tidak langsung, pokok masalah dan akar
masalah.
Gizi kurang secara langsung
disebabkan oleh kurangya konsumsi makanan dan adanya penyakit infeksi. Makin
bertambah usia anak maka makin bertambah pula kebutuhannya. Konsumsi makanan
dalam keluarga dipengaruhi jumlah dan jenis pangan yang dibeli, pemasakan,
distribusi dalam keluarga dan kebiasaan makan secara perorangan. Konsumsi
juga tergantung pada pendapatan, agama, adat istiadat, dan pendidikan keluarga
yang bersangkutan (Almatsier, 2001).
Timbulnya gizi kurang bukan saja
karena makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit. Anak yang mendapat
makanan yang cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam, akhirnya dapat
menderita gizi kurang. Sebaliknya anak yang makan tidak cukup baik maka daya
tahan tubuhnya (imunitas) dapat melemah, sehingga mudah diserang
penyakit infeksi, kurang nafsu makan dan akhirnya mudah terkena gizi kurang
(Soekirman, 2000). Sehingga disini terlihat interaksi antara konsumsi makanan
yang kurang dan infeksi merupakan dua hal yang saling mempengaruhi.
Menurut Schaible & Kauffman
(2007) hubungan antara kurang gizi dengan penyakit infeksi tergantung dari
besarnya dampak yang ditimbulkan oleh sejumlah infeksi terhadap status gizi itu
sendiri. Beberapa contoh bagaimana infeksi bisa berkontribusi terhadap kurang
gizi seperti infeksi pencernaan dapat menyebabkan diare, HIV/AIDS,tuberculosis,
dan beberapa penyakit infeksi kronis lainnya bisa menyebabkan anemia dan
parasit pada usus dapat menyebabkan anemia. Penyakit Infeksi disebabkan oleh
kurangnya sanitasi dan bersih, pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai,
dan pola asuh anak yang tidak memadai (Soekirman, 2000).
Penyebab tidak langsung yaitu
ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan
kesehatan lingkungan. Rendahnya
ketahanan pangan rumah tangga, pola asuh anak yang tidak memadai, kurangnya
sanitasi lingkungan serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai merupakan tiga
faktor yang saling berhubungan. Makin tersedia air bersih yang cukup untuk
keluarga serta makin dekat jangkauan keluarga terhadap pelayanan dan sarana
kesehatan, ditambah dengan pemahaman ibu tentang kesehatan, makin kecil resiko
anak terkena penyakit dan kekurangan gizi (Unicef, 1998) Sedangkan penyebab
mendasar atau akar masalah gizi di atas adalah terjadinya krisis ekonomi,
politik dan sosial termasuk bencana alam, yang mempengaruhi ketidak-seimbangan
antara asupan makanan dan adanya penyakit infeksi, yang pada akhirnya
mempengaruhi status gizi balita (Soekirman, 2000).
Penelitian Anwar (2006) mengenai faktor resiko
kejadian gizi buruk di Lombok Timur. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa
gizi buruk di Kabupaten Lombok Timur disebabkan oleh Faktor karakteristik
keluarga dan pola asuh, yaitu : pendapatan keluarga (berisiko 5,03 kali),
tingkat pendidikan ibu (2,32 kali), pengetahuan ibu mengenai pemantauan
pertumbuhan (berisiko 15,64 kali), pengasuh anak (7,87 kali), berat badan lahir
(5,73 kali), lama ASI eksklusif (2,57 kali), status imunisasi (10,28 kali), dan
pola makan anak (3,27 kali). Namun secara bersama (simultan), hanya pengetahuan
ibu yang bermakna sebagai faktor risiko gizi buruk di Kabupaten Lombok Timur.
Pada penelitian ini faktor karakteristik keluarga yang menjadi pertimbangan dan
dapat mempengaruhi hasil adalah pendapatan keluarga dan tingkat
pendidikan ibu.
BAB III
METODOLOGI
A.
Waktu dan
Lokasi
Tempat
Pelaksanaan Pengukuran Dan Penimbangan Berat Badan adalah di TK Darussalam
Jalan George Obos pada tanggal 16 Desember 2013 pukul 08.00 – 10.00 WIB.
B.
Populasi
dan Sampel
Populasi
dari keseluruhan anak di TK Darussalam adalah 84 orang sedangkan sampel anak di
TK Darussalam adalah 64 orang.
C.
Jenis
dan Cara Pengumpulan Data
Jenis dan cara
pengumpulan data yaitu dengan cara mengukur tinggi badan menggunakan Microise
dan menimbang berat badan menggunakan timbangan digital.
1. Hasil BB/U anak- anak di TK Darussalam setelah di hitung menghasilkan rata-rata berat badan
16,14 kg
dengan rumus sebagai berikut :
Rata-rata =
=
= 16,14 kg
2. Hasil TB/U anak- anak di TK Darussalam setelah di hitung menghasilkan rata-rata tinggi badan
100,66 cm dengan rumus sebagai berikut :
Rata-rata =
=
= 100,66 cm
D.
Pengolahan dan Analisis Data
1. Pengolahan
Data
a. Umur
diperoleh dengan cara menghitung selisih tanggal pengumpulan data dengan
tanggal lahir.
b. Status
Gizi diperoleh dengan cara menghitung Z score dengan rumus
Atau
Dengan indeks
a.
Kategori status gizi
berdasarkan indeks BB/U
·
>
3 SD : Berat badan
sangat lebih
·
> 2 SD s/d 3 SD : Berat badan lebih
·
-2 SD s/d 2 SD : Berat badan normal
·
<
-2 SD s/d -3 SD : Berat badan kurang (underweight)
·
<-3
SD : Berat badan sangat kurang (severe underweight)
b.
Kategori status gizi
berdasarkan indeks TB/U
·
>
3 SD :
Tinggi/jangkung
·
-2 SD s/d 3 SD : Normal
·
-3 SD s/d < -2 SD : Pendek
·
<
-3 SD : Sangat
pendek
c.
Kategori status gizi berdasarkan
indeks BB/TB
·
>
3 SD : Sangat gemuk
(Obes)
·
> 2 SD s/d 3 SD : Gemuk (Overweight)
·
> 1 SD s/d 2 SD : Risiko gemuk
·
-2
SD s/d 1 SD : Normal
·
-3 SD s/d < -2 SD : Kurus (wasted)
·
< -3 SD : Sangat kurus (severe
wasted)
d. Kategori status gizi berdasarkan indeks IMT/U
·
>
3 SD : Sangat gemuk
(Obes)
·
> 2 SD s/d 3 SD : Gemuk (Overweight)
·
> 1 SD s/d 2 SD : Risiko gemuk
·
-2
SD s/d 1 SD : Normal
·
-3 SD s/d < -2 SD : Kurus (wasted)
·
< -3 SD : Sangat kurus (severe
wasted)
c. Status
Pertumbuhan
1) Status
gizi normal jika, indeks BB/U normal, TB/U normal, BB/TB normal dan IMT/U
normal.
2) Status
gizi kurang jika, indeks BB/U kurang/sangat kurang, TB/U normal, BB/TB normal
dan IMT/U normal.
3) Pendek
/ Sangat Pendek jika, indeks BB/U normal, TB/U pendek/sangat pendek, BB/TB
normal dan IMT/U normal.
4) Status
gizi lebih jika, BB/U lebih, TB/U normal, BB/TB dan IMT/U normal / resiko gemuk
/ gemuk.
5) Obesitas
jika, BB/U sangat lebih, TB/U normal/pendek, BB/TB dan IMT/U gemuk/obesitas.
2. Analisis
Data
Data
Umur, Berat Badan, Tinggi Badan, Jenis Kelamin, Status Gizi dan Status
Pertumbuhan dianalisis secara deskriptif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Karakteristik Sampel
1.
Umur
Dari
hasil praktikum data anak di TK Darussalam rata-rata berumur 4 tahun.
2.
Jenis
kelamin
Dari hasil praktikum data
anak di TK Darussalam yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan
dengan anak berjenis kelamin Laki-laki.
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik
Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin
|
|||
Jenis Kelamin
|
Frekuensi
|
%
|
|
Laki-laki
|
31
|
48
|
|
Perempuan
|
33
|
52
|
|
Jumlah
|
64
|
100
|
|
3.
Berat Badan
Dari
hasil praktikum ini
berat badan sampel berkisar antara 11,2
kg – 33,9 kg dengan rata-rata berat
badannya 16,1 kg
4.
Tinggi Badan
Dari hasil praktikum ini tinggi badan sampel
berkisar antara 91,8 cm–111,4 cm dengan rata-rata tinggi badannya 102,25 cm.
B.
Status Gizi
1.
Status
Gizi Menurut BB/U
Tabel 4.2 Jumlah dan
Persentase Status Gizi Menurut BB/U
|
||
Status Gizi
|
Jumlah (n)
|
%
|
Berat
Badan Sangat Lebih
|
1
|
1,6
|
Berat
Badan Lebih
|
3
|
4,8
|
Berat
Badan Normal
|
58
|
92
|
Berat
Badan Kurang (underweight)
|
1
|
1,6
|
Berat Badan Sangat Kurang (severe underweigth)
|
-
|
0
|
Jumlah
|
63
|
100
|
2. Status Gizi Menurut TB/U
Tabel 4.3 Jumlah dan
Persentase Status Gizi Menurut TB/U
|
||
Status Gizi
|
Jumlah (n)
|
%
|
Tinggi/Jangkung
|
-
|
-
|
Normal
|
47
|
92
|
Pendek
|
4
|
8
|
Sangat
Pendek
|
-
|
-
|
Jumlah
|
51
|
100
|
3. Status Gizi Menurut BB/TB
Tabel 4.4 Jumlah dan
Persentase Status Gizi Menurut BB/TB
|
||
Status Gizi
|
Jumlah (n)
|
%
|
Sangat
Gemuk (Obes)
|
6
|
11
|
Gemuk
(Overweight)
|
4
|
7
|
Risiko
Gemuk
|
4
|
7
|
Normal
|
43
|
75
|
Kurus
(Wasted)
|
-
|
0
|
Sangat Kurus (Severe Wasted)
|
-
|
0
|
Jumlah
|
57
|
100
|
4. Status Gizi Menurut IMT/U
Tabel 4.5 Jumlah dan
Persentase Status Gizi Menurut IMT/U
|
||
Status Gizi
|
Jumlah (n)
|
%
|
Sangat
Gemuk (Obes)
|
7
|
13
|
Gemuk
(Overweight)
|
4
|
7
|
Risiko
Gemuk
|
3
|
5
|
Normal
|
43
|
75
|
Kurus
(Wasted)
|
-
|
-
|
Sangat
Kurus (Severe Wasted)
|
-
|
0
|
Jumlah
|
57
|
100
|
5.
Kesimpulan Status Gizi
Dari tabel-tabel diatas dapat disimpulkan sebagai
berikut:
a. Dari
perhitungan z-score berdasarkan indeks Berat Badan menurut Umur diperoleh status gizi lebih berjumlah 4,8 %.
b. Dari
perhitungan z-score berdasarkan indeks Tinggi
Badan menurut Umur
diperoleh status gizi pendek
berjumlah 8 %.
c. Dari
perhitungan z-score berdasarkan indeks Berat Badan menurut Tinggi Badan diperoleh kategori status gizi sangat gemuk (obesitas)
berjumlah 11%.
d. Dari
perhitungan z-score berdasarkan indeks Indeks
Massa Tubuh menurut Umur diperoleh status gizi sangat gemuk (obesitas)
berjumlah 13 %.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Sebagian besar sampel berjenis kelamin perempuan
dengan persentase 52%.
2. Sebanyak 13% sampel mempunyai status gizi sangat gemuk (obesitas).
3. Sebanyak 4,8% sampel mempunyai status gizi gemuk (overweight).
4. Sebanyak 74,2% sampel mempunyai status gizi normal.
5. Sebanyak 8% sampel mempunyai status gizi pendek.
B.
Saran
Diharapkan kepada
pihak sekolah agar dapat melakukan pengukuran antropometri secara berkala,
supaya orang tua murid dapat memantau pertumbuhan anaknya.
Bagi mahasiswa atau
petugas kesehatan yang melakukan pengukuran antropometri diharapkan dapat
memperhatikan pemasangan alat seperti microtoice agar lebih teliti dan
mendapatkan hasil yang lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Achadi, E.L. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat Edisi
1. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Anggraeni, A C. 2012. Asuhan Gizi Nutritional Care
Process. Yogyakarta : Graha Ilmu
I Dewa
Nyoman Supariasa, MPS dkk, 2002. Penilaian Status Gizi. Buku Kedokteran EGC,
Jakarta. Fakultas Kedokteran. 2010.
Markum A.H. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI
Nursalam, S P. 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan.
Jakarta : CV. Sagung Setyo
Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak Edisi kedua.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Suhardjo. 1986. Pangan, Gizi dan Pertanian. Jakarta :
Universitas Indonesia
Suliha, Uha, dkk. 2001. Pendidikan Kesehatan dalam
Keperawatan. Jakarta : EGC
Supariasa, I Dewa Nyoman, Bachyar Bakri, Ibnu Fajar.
2002. Penilaian Status Gizi Cetakan 1. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Worthington,
R,B.S. dan Williams S.R. 2000. Nitrition throughout the Life Cycle, ed 4, hal.
239. McGraw-Hill International Ed, Singapore.